Game-game tersebut menawarkan sensasi praktis bagi anak dengan nuansa perang-perangan, perkelahian, pembantaian etnis, perang antar suku, dan bahkan pembunuhan sadis terhadap siapa pun yang dianggap lawan.
Manager Program Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Anak Aceh, Rudy Bastian, yang merilis delapan jenis game berbahaya tersebut, Minggu (11/1/2015) mengatakan, ibarat candu, perlahan-lahan efek game tersebut merusak sisi psikis dan kepribadian anak.
"Kita selaku orangtua cenderung abai menyangkut upaya preventif terhadap gejala ini. Orangtua gampang sekali mengizinkan anak bermain game online dengan alasan supaya anaknya tidak jenuh dengan aktifitas belajar yang sudah dijalani selama ini," katanya.
Namun, kata Rudy, orang tua cenderung apatis mendorong anak memilih game online yang cocok dan beredukasi bagi anak.
Usaha mencontoh dan meniru tokoh-tokoh dalam game inilah,menurut Rudy, yang dikhawatirkan dicontoh dicontoh dalam kehidupan sehari- hari si anak.
"Setiap anak yang bermain game ini mendapatkan suasana menegangkan dan menantang tak terkecuali jika game ini dimainkan oleh orang dewasa," ujarnya.

No comments:
Post a Comment